Jumat, 20 Agustus 2010

wawancara KH Saifudin amsir


Jumat, 06 Agustus 2010 pukul 14:52:00
KH Saifudin Amsir: Selamat Datang, Bulan Segala Harapan

WAWANCARA

Kurang dari sepekan lagi bulan suci Ramadhan 1431 H akan segera tiba. Inilah bulan yang istimewa bagi umat Islam di seantero jagad. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, rahmat serta ampunan. Bak tamu agung, kedatangan bulan suci ini dirindu dan dinanti segenap Umat Islam.
''Selamat datang wahai engkau bulan puncak segala harapan. Dengan kedatanganmu, hati yang berkarat ini akan lenyap karatnya dan lenyap pula segala duka cita,'' ujar KH Saifuddin Amsir, rais syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada wartawan Republika Damanhuri Zuhri.
Berikut petikan wawancara dengan Pembina Yayasan Terpadu Sibghatullah yang juga Pengasuh Betawi Korner di Jakarta Islamic Center (JIC) itu tentang cara menyambut Ramadhan:

Bulan suci Ramadhan 1431 Hi akan segera tiba. Apa saja yang harus dipersiapkan umat Islam untuk menyambut tamu agung ini?
Ramadhan ini tergantung siapa yang menerimanya. Ramadhan disambut dengan berbagai cara dengan kualitas yang berbeda-beda pula. Kita bisa menyentuh ini lewat kasidah, Marhaban Ya Qadimal aan, Anta lii ghayah marami (Selamat datang wahai bulan yang tiba sekarang ini. Bagi aku, engkau adalah puncak segala harapan. Dengan kedatanganmu di hati yang berkarat itu lenyap karatnya dan lenyap pula segala duka cita).
Ada sebagian orang yang menjadikan Ramadhan sebagai suatu puncak harapan. Ghayah maram. Orang sekarang menyebutnya dengan istilah idola. Bagi mereka, sebelas bulan yang berlalu sampai kedatangan bulan Ramadhan, merupakan bulan-bulan penuh penantian. Sehingga, Ramadhan menjadi puncak tujuan.
Tak ada perbedaan pendapat mengenai Ramadhan dalam konteks pahala, karena hadisnya terlalu banyak. Pada bulan ini pahala dilipatgandakan. Tetapi yang amat penting untuk dimaknai bagaimana manusia bisa muncul sebagai makhluk Allah yang dimuliakanpada bulan Ramadhan.
Syahru Ramadhanalladzi unzila fiihil quranu hudallinnasi wabayyinaatim minal huda wal furqan (Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang lebih konkret tentang petunjuk itu). Ini bukan hanya petunjuk secara global tetapi juga petunjuk-petunjuk dalam bentuk yang lebih parsial dan lebih rinci.

Artinya, turunnya kitab suci Alquran menambah kemuliaan bulan Ramadhan?
Betul. Bahkan kalau kita baca ayat, hudallinnasi wabayyinaatim minal huda wal furqan (sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang lebih konkrit tentang petunjuk itu dan dialah pembeda). Pembeda apa? Pembeda antara yang haq dan yang bathil. Manusia selamanya dalam kegelapan. langkah-langkah hidupnya menjadi tidak menentu, manakala tak dibimbing untuk membedakan antara yang haq dan bathil.
Secara umum pada bulan turun Alquran itu ada satu kenangan yang mengandung misi dan pesan yang harus terus diputar ulang. Ada kaleidoskop misi yang paling fundamental di bulan Ramadhan yang bukan saja harus diingat tetapi dilekatkan dalam hati dan tingkah laku.

Misi dan pesan seperti apa?
Malam turunnya Alquran saja mendapat julukan lailatul qadar (malam keagungan). Arti kemanusiaan menjadi sangat berbeda antara yang ada pada masa sebelum Alquran dengan masa sesudah Alquran diturunkan. Dengan turunnya Alquran, dunia kemanusiaan yang tak memandang Timur dan Barat telah mengalami era Renainans atau pencerahan.

Rasulullah SAW disebutkan dalam banyak hadis pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan lebih mengencangkan sarung, membangunkan keluarga dan memperbanyak ibadah?
Ya. Begitu banyak orang yang berharap bertemu dengan Lailatur Qadar, karena malam itu bukan hanya sekadar menuangkan sesuatu yang melulu dalam konteks pahala tetapi kesempurnaan kemanusiaan, sampai kaum malaikat pun diperintahkan Allah untuk mengagungkan manusia. Itu membentuk jutaan insan kamil. Insan yang sempurna ketika pengertian-pengertian filosofis, pengertian-pengertian penuh hikmah dari Lailatul Qadar itu dirasakan oleh manusia.
Jadi saat itu dia berhak untuk disalami oleh para malaikat yang mempunyai kedudukan sebagai makhluk yang paling suci di sisi Allah SWT. Jadi, harus ada pemahaman yang lebih jelas tentang lailatul qadar. Dia merupakan fase pemisah dari gaya hidup, cita-cita hidup, konsep hidup yang dimiliki oleh manusia itu akan sangat berbeda dengan pada saat mendapatkan Alquran dari Rasulullah SAW. Hal itulah yang menjadi sangat bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Jadi bulan suci Ramadhan ini umat Islam bukan hanya ibadah puasa, tetapi juga mencapai kemuliaan?
Dalam lirik kasidah disebutkan, anta lii ghayah marami (Buat aku, engkau (bulan Ramadhan, red) adalah puncak segala tujuan, puncak segala harapan), Puncak segala tujuan itu menjadi terkonsentrasi pada bagian yang paling atas. Pada level yang paling mulia yaitu tingkat kemuliaan manusia yang terjadi secara faktual pada saat itu.
Inilah yang menyebabkan pada kalangan-kalangan tertentu pahala bukan menjadi sesuatu yang sangat dilirik, tetapi isi yang diiringi oleh pahala-pahala itulah yang paling dinantikan oleh orang-orang yang merindukan kedatangan Ramadhan.

Kalau begitu, setiap umat Islam harus mampu mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menyambut bulan yang penuh keberkahan, penuh rahmat serta penuh kemuliaan ini?
Setiap umat harus menegakkan eksistensi kemanusiaannya dengan mengangkat tangan bertakbir untuk menghadapkan dirinya kepada Allah, lalu merunduk dalam ruku' sebagai pengakuan. Sebesar apapun aku dalam posisi tegak tetap menjadi lemah di hadapan Dia. Lalu perlahan dia mulai merunduk sampai pada akhirnya dia merunduk sehabis-habisnya.
Cara merunduk yaitu paling dekat dengan bumi, merendah diri ke hadapan Allah secara total. Namun saat dia merendahkan diri itulah datang satu posisi yang disebut dalam hadis Rasulullah Aqrabu maa yakunul abdu min rabbihi wahuwa sajidun (sedekat-dekat posisi seorang hamba dengan Tuhannya yaitu pada saat dia sujud).

Jadi, dia tidak merendahkan diri tetapi dalam posisi kerendahan itu dia menjadi semakin dekat. Itu yang mesti diperbanyak di saat orang melakukan puasa. Jadi bukan puasa sebagai melakukan ritualitas hambar yang hanya kelihatan secara fenomenal dengan berbuka yang meriah, dengan segala macam atribut-atribut yang di luar dengan segala macam yang bersifat eksetoris itu.

Rasulullah SAW mengingatkan, ''Siapa yang bergembira hati dengan datangnya bulan suci Ramadhan, maka Allah akan singkirkan dia dari sentuhan api neraka.'' Selamat datang bulan Ramadhan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar